IPB Badge
February 2016
S M T W T F S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
2829  
Archives

Nama : Sergi Roseli
NRP : G64100015
Laskar 8

Ini adalah cerita tentang sebuah perjuangan, cerita tentang getirnya kehidupan dan cerita tentang keyakinan. Desi adalah anak pertama dari seorang pekerja honorer (sang ayah), ibu saya (saya disini adalah Desi) adalah seorang ibu rumah tangga. Saya adalah anak pertama dari 9 bersaudara. Saya adalah seorang manusia yang menginginkan bisa belajar dengan baik tak usah muluk-muluk punya mobil, kost mewah, rumah mewah bisa makan saja saya sudah merasa untung. Suatu hari saya diterima untuk sekolah di suatu universitas terkenal dibandung katakanlah universitas dipati ukur di bandung, saya masuk hanya bermodalkan sebuah kata “Tak Menyerah” saya tak punya apapun untuk bisa hidup di bandung. Masuklah saya di universitas tersebut, Saya tak punya uang, bahkan buat makan pun susahnya minta ampun yang lebih ironis saya tidak punya kostan.
Saya tidak punya kostan, yang saya lakukan sehari-hari adalah numpang sana-numpang sini sudah pahit rasanya di caci maki sana-sini karena numpang. Sobat Desi adalah perempuan, hidup memang tak pernah kenal laki-laki ataupun perempuan, inilah hidup. Hidup pahit Desi selama 4 tahun di universitas dipatiukur tersebut berakhir manis Desi dapat nilai yang baik.
Inilah perjuangan Desi tak pernah puas, tak pernah menyesal dan tak pernah kapok. Mungkin beberapa orang berkata sudah lulus S-1, ya udah tinggal cari kerja dan hiduplah bersenang-senang. Tapi Desi tidak, dia melanjutkan belajarnya di sebuah Universitas atau Institut terkenal katakanlah “Intitut Negeri Bandung” dia belajar disana, inilah pertemuan pertama Desi dengan Kakak saya, kakak saya bercerita Desi tubuhnya kurus kering, jadwal makannya sobat dia makan pagi hanya dengan sebungkus roti yang harganya Rp. 1200,- jadwal keduanya makan siang jam 2 dan tentu Desi hanya makan 2 kali sehari.
Dia mengais rejeki dengan mengajar anak-anak sekolah, mungkin harusnya cukup bagi dia tapi tunggu dulu, Desi memiliki tanggungan lain yaitu adik-adiknya. Hidup memang tak selamanya manis tapi ini terlalu pahit. Pada suatu hari teman Desi berniat mengajak makan dan mencoba untuk mentraktirnya tapi Desi bukan pengemis, Desi boleh miskin tapi Desi bukan pengemis. Harga diri yang tingginya itu justru yang membuat dia terus survive. Suatu kisah, dia mengerjakan Thesis tapi bagaimana cara dia mengerjakannya. Cara dia, pertama dia tidur selalu lebih awal dari yang lain sambil berkata pada temannya “boleh pinjam laptopnya” kata Desi ke temannya (Desi numpang di teman tersebut), kata temannya “Tapi Des, saya juga perlu” dan Desi berkata “Iya, saya nanti pinjamnya setelah kamu selesai” dia kemudian tidur dan mengerjakan tugas-tugasnya sangat larut malam atau bahkan pagi hari. Kisah berikutnya Desi, Desi tentu tidak punya Laptop dia hanya punya Flashdisk dan itu satu-satunya. Bagaimana perasaan anda ketika Desi bilang “Flashdisk-ku kena virus, Thesis aku ilang” ? Cobaan tak pernah berhenti sampai situ. SNMPTN pun tiba, Adik Desi pun kena giliran untuk kuliah, adiknya bertanya ke Desi ” Mbak aku gak usah kuliah aja ya?” tapi coba pikir apa yang Desi katakan “Kuliah aja de, jangan pikirin yang lain”. Sobat bagaimana adiknya bisa hidup? bila kakaknya (Desi) saja masih numpang, lalu adenya mau dimana? Sobat Adenya numpang juga di asrama temannya (kamar asrama tersebut bukan diperuntukan Desi dan adenya, tetapi untuk temannya).
Inilah Hidup, Desi Harus Berani mengahadapi kenyataan Hidup yang pahit. Belum tentu kita mampu hidup layaknya Desi, kita mungkin sudah menyerah jauh-jauh hari.
Seperti Desi “Jangan Pernah Menyerah”, Desi dapat bertahan di arena kehidupan yang keras karena tak pernah menyerah.
“Jangan Putus Asa” Selalu ada jalan kalau kita percaya dan berusaha.
“Hiduplah di telapak kakimu sendiri” jangan tegantung sama orang lain.
-Desi masih kuliah S-2, di Institut ….. Bandung suatu universitas terkenal di Indonesia yang letaknya di Bandung.

Nama : Sergi Roseli
NRP : G64100015
Laskar 8

Menjadi mahasiswi fakultas kedokteran adalah impianku sejak dulu. Sebelum aku memutuskan untuk kuliah di IPB, aku berusaha semampuku agar bisa diterima di fakultas kedokteran. Mulai dari mengikuti berbagai PMDK dan juga Ujian Mandiri hingga SNMPTN. Mulai dari mengikuti ujian di Cirebon, Bandung, Yogyakarta hingga Surabaya, bahkan aku mengikuti 2 kali ujian di Surabaya. Salah satu impianku memang diterima di fakultas kedokteran Universitas N walaupun sebelumnya aku bermimpi untuk bisa diterima di fakultas kedokteran Universitas I namun sepertinya mimpi itu tidak bisa aku capai. Aku ingat, 11 April 2010 adalah waktu dilaksanakannya UM Universitas I yang juga bertepatan dengan dilaksanakannya tes tertulis untuk PMDK Prestasi Universitas N yang sebelumnya telah aku ikuti. PMDK Universitas N memang berbeda dengan PMDK dari PTN lain, setelah mengirimkan berkas rapor dan dinyatakan lolos seleksi berkas, aku masih harus mengikuti tes tertulis untuk bisa diterima di Universitas N. Setelah beberapa hari sebelum 11 April aku pikirkan dengan berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk megikuti tes tertulis PMDK Prestasi Universitas N dan meninggalkan UM Universitas I. Mulai dari belajar di bimbel yang ada di kotaku (Cirebon) hingga di Bandung telah kulakukan, hmm sebelumnya aku tidak pernah berpikir untuk ikut bimbel di Bandung tetapi saudaraku merekomendasikan bimbel itu padaku hingga akhirnya orang tuaku menyuruhku untuk mencoba bimbel itu. Aku memang tidak sempat belajar lama di bimbel itu, hanya 2 minggu namun aku tetap harus optimis, pikirku. Aku akui bimbel itu memang memiliki metode pembelajaran yang berbeda dengan bimbel lain yang pernah aku ikuti. Pada awal masuk bimbel itu juga aku merasa sedikit sulit untuk menyesuaikan diri disana walaupun pada akhirnya aku bisa merasa cukup nyaman. Dua minggu berlalu tibalah tanggal 16-17 Juni 2010, dimana aku harus siap untuk melakukan yang terbaik tentunya demi masa depanku. Setelah melewati hari itu, aku merasa lega untuk sementara karena setidaknya aku sudah melakukan segala sesuatu yang terbaik yang bisa aku lakukan. Akhirnya hari yang benar-benar menentukan masa depanku itu tiba dan ternyata aku tidak diterima di semua pilihan yang aku pilih. Aku sempat merasa sangat kecewa walaupun sebenarnya kekecewaan itu bukan hanya sekali aku dapatkan. Aku mencoba untuk berpikir bahwa ini memang yang terbaik untukku aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada, mungkin ada sesuatu yang ingin Allah berikan padaku suatu hari nanti tentunya sesuatu yang terbaik yang sesungguhnya aku butuhkan. Setiap kali aku merasa kecewa, aku selalu berusaha untuk memberi sugesti positif pada diriku sendiri.